Thursday, May 03, 2007
Beberapa tahun yang silam,seorang pemuda terpelajar dari semarang sedang
berpergian naik pesawat ke Jakarta.
Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur.
Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

" Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.

"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight"
ke Singapore
nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.

" Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam
sejenak.
pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan
pertanyaannya.

" Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua
ya bu??
Bagaimana dengan kakak-adik adik nya??"

Oh ya tentu " si Ibu bercerita :
"Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat Kerja di
Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang
keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi
Dosen di Semarang.""

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan
sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

" terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??"

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, " anak saya yang
pertama menjadi petani di Godean Jogja nak".
Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar "
Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya
dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di
pekerjaannya, sedang dia menjadi petani "??
Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
" Ooo ...tidak tidak begitu nak....
Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang
membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"

Lesson from the story :
Everybody in the world is a important person.
Open your eyes....
your heart....
your mind....
your point of view....
because we can't make summary before read "the book "
completely.

The wise person says...
The more important thing is not WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE BEEN DOING
 
posted by Imelda at 6:02 AM | 2 comments
Wednesday, May 02, 2007
Kisah tentang
seorang gadis kecil cantik memiliki sepasang bola Mata indah Dan hati yang
polos, seorang anak yatim piatu yang hanya sempat hidup di dunia ini
selama delapan tahun.

Satu kata
terakhir yang IA tinggalkan adalah saya pernah datang Dan saya sangat penurut.
Anak ini rela melepaskan pengobatan bagi dirinya padahal sebelumnya dia telah
memiliki Dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan
orang Chinese diseluruh dunia. Dia membagikan Dana tersebut kepada tujuh
anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.

Begitu lahir
dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.

Dia hanya
memiliki seorang papa yang mengadopsinya yang berumur 30 tahun yang bertempat
tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya
Chun Er Cu. Karena miskin maka selama ini IA tidak menemukan pasangan hidupnya
kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak Ada lagi orang yang
mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30
November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak
kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi
kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat
selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak
kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya
berpikir kalau tidak Ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini
bisa meninggal dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut dengan menghela
nafas Dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya
makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah
kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak
Ada ASI Dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi
tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi
lemah Dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut Dan sangat patuh. Musim
silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh Dan bertambah besar serta memiliki
kepintaran yang luar biasa.

Para tetangga
sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan
mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan Dan kecemasan papanya, Yu
Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang
hidup dalam kesusahan yang luar biasa, mulai dari umur Lima tahun sudah
membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci Baju, memasak nasi Dan
memotong rumput setiap hal dia kerjakan dengan baik. Yu Yuan sadar bahwa dia
berbeda dengan anak-anak lain anak-anak lain memiliki sepasang orang tua,
sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia
Dan papa yang saling menopang oleh karena itu IA harus menjadi seorang anak
yang penurut Dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih Dan marah.

Pada saat dia
masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus Giat belajar Dan
menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya Yang tidak
berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya,
dia sering bernyanyi untuk papanya Dan setiap hal yang lucu yang terjadi
di sekolahnya di ceritakan kepada papanya kadang-kadang dia bisa nakal dengan
mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali
melihat senyuman papanya, dia merasa puas Dan bahagia walaupun tidak seperti
anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia Dengan papa, IA
sudah sangat berbahagia.

Mulai dari
bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan, pada suatu Pagi saat Yu Yuan
sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan
darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa
menghentikan pendarahan tersebut sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas
desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga
mengerluarkan darah Dan tidak mau berhenti dipahanya mulai bermunculan
bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan
ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak
mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri
dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya
bagaikan air yang terus mengalir Dan memerahi lantai beruntung
papanya mendapatkan sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar
dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom kecil tersebut sudah
penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang
melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk Diperiksa Dan dokter
menyatakan bahwa Yu Yuan terkena leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut
sangat Mahal Dan memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai
cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Dalam hati papanya hanya
memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya dengan berbagai cara meminjam
uang kesanak saudara Dan teman ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan
harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang
singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat Mata
papanya yang sedih Dan pipi yang kian Hari kian kurus. Dalam Hati Yu Yuan
merasa sedih. Pada suatu Hari Yu Yuan menarik tangan papanya, Air Mata pun
mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya Ingin
mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu
baru berumur 8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut,
semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit
ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18
juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani
surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun
mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu
juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki
permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju
baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak Ada
, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini".

Hari kedua,
papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu
Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok
yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.

Begitu
mencoba Yu Yuan tidak rela melepaskannya kemudian mereka bertiga tiba
di sebuah studio foto.

Dengan memakai
baju barunya Yu Yuan berpose secantik mungkin dia berjuang untuk tersenyum
bagaimanapun ia berusaha tersenyum pada akhirnya juga ia tidak dapat
menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan
Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti
selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah
mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan
sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak
yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar
keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak
kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh
dunia mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak
ini". Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi
setiap orang.

Hanya dalam
waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah
mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. titik kehidupan
Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu,
pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh
dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu
Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua
orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang
teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta saya
mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat
kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan
anakku tercinta."

Pada tanggal 21
Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya
dibawa kembali ke ibu kota . Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah
ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya
menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat
dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak
kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii
Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat
hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak
pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang
belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak
menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan
yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang
seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak
perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat
dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii
Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan
tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan
sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali.
Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan
kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah
berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan
dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari
tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik
dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek
samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi
dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat
lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20
agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante kenapa mereka
mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.

Wartawan
tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati". Yu
Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik
hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik.

Orang baik
harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu Yuan
dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu
Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget,
sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur
tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur
delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis
tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan,
tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam artikel
itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih Ada sembilan sebutan singkat tante
wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan
meninggal.

Tolong......
......Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada
orang-orang yang selama ini telah memperhatikan- nya lewat surat kabar.
"Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi tolong jaga papa saya
Dan sedikit dari Dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya Dan
katakan ini juga pada pemimpin palang merah setelah saya meninggal, biaya
pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar
mereka lekas sembuh" surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan
tangis yang membasahi kedua belah pipinya.

Saya pernah
datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu
Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu
bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk
bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie
instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan
semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat
dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang
sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin
membantu meringankan pederitaannya tetapi tetap tidak bisa membantunya.

Yu Yuan yang
telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang.
Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang
cantik yang suci bagaikan air, sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She
Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak
yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk
setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu
sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu.
Terbanglah.. ......... ...." demikian kata-kata dari seorang pemuda
tersebut.

Pada tanggal 26
Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka,
banyak orang-orang berdiri Dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka
adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi
Yu Yuan yang menderita karena leukemia Dan melepaskan pengobatan demi orang
lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan
kepergian Yu Yuan.

Didepan
kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu
nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30 nov
1996- 22 agust 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat
hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah
menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan
menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan
dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak
penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu
adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang
Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu.
Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24
September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua
Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut
wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda,
terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana . Jangan
risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata
"Aku pernah datang dan aku sangat patuh".

Kesimpulan:

Demikianlah
sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang
bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang
dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya,
akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia. Walaupun hidup
serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh
yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang
bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang
yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi
seorang Pengasih.
 
posted by Imelda at 8:40 AM | 0 comments
A little girl went to her bedroom and pulled a glass jelly

jar from its hiding place in the closet.



She poured the change out on the floor and counted it carefully. Three times, even. The total had to be exactly perfect. No chance here for mistakes.

Carefully placing the coins back in the jar and twisting

on the cap, she slipped out the back door and made her way 6 blocks to Rexall's Drug Store with the big red Indian Chief sign above the door.

She waited patiently for the pharmacist to give her some attention but he was too busy at this moment. Tess twisted her feet to make a scuffing noise. Nothing. She cleared her throat with the most disgusting sound she could muster. No good. Finally she took a quarter from her jar and banged it on the glass counter. That did it!

"And what do you want?" the pharmacist asked in an annoyed tone of voice. I'm talking to my brother from Chicago whom I haven't seen in ages," he said without waiting for a reply to his question.

"Well, I want to talk to you about my brother," Tess answered back in the same annoyed tone. "He's really, really sick... and I want to buy a miracle."

" I beg your pardon?" said the pharmacist.

" His name is Andrew and he has something bad growing inside his head and my Daddy says only a miracle can save him now. So how much does a miracle cost?"



"We don't sell miracles here, little girl. I'm sorry but I can't help you," the pharmacist said, softening a little.

"Listen, I have the money to pay for it. If it isn't enough, I will get the rest. Just tell me how much it costs."

The pharmacist's brother was a well dressed man. He stooped down and asked the little girl, "What kind of a miracle does your brother need?"



" I don't know," Tess replied with her eyes welling up. I just know he's really sick and Mommy says he needs an operation. But my Daddy can't pay for it, so I want to use my money."

" How much do you have?" asked the man from Chicago.

"One dollar and eleven cents," Tess answered barely audibly.

"And it's all the money I have, but I can get some more if I need to."

"Well, what a coincidence, " smiled the man. "A dollar and eleven cents---the exact price of a miracle for little brothers. "

He took her money in one hand and with the other hand he grasped her mitten and said "Take me to where you live. I want to see your brother and meet your parents. Let's see if I have the miracle you need."



That well dressed man was Dr. Carlton Armstrong, a surgeon, specializing in neuro-surgery. The operation was completed fr ee of charge and it wasn't long until Andrew was home again and doing well.

Mom and Dad were happily talking about the chain of events that had led them to this place.

That surgery," her Mom whispered. "was a real miracle. I wonder how much it would have cost?"

Tess smiled. She knew exactly how much a miracle cost...one dollar and eleven cents .... plus the faith of a little child..

In our lives, we never know how many miracles we will need..

A miracle is not the suspension of natural law, but the operation of a higher law.. I know you'll keep the ball moving!
A ball is a circle, no beginning, no end. It keeps us together like our Circle of Friends. But the treasure inside for you to see is the treasure of friendship you've granted to me.
 
posted by Imelda at 8:38 AM | 0 comments
Friday, February 23, 2007
Hanya seekor angsa putih yang berenang di sebuah kolam sendirian. Dia
sendiri bukan karena tidak ada angsa lain di kolam itu, melainkan dia
merasakan satu keindahan dari sendiri itu. Angsa putih tak seistimewa
angsa bermahkota, ataupun angsa yang berbulu emas, namun dia tetap
menyukai dirinya sendiri sebagai "angsa putih". Angsa bermahkota
pernah mencoba bertanya, " Putih...apa kamu tidak kesepian selalu
menyendiri?" , dgn senyum Angsa putih menjawab " tidak, ada banyak yg
bisa dikatakan sepi padaku, hanya dengan sendiri aku bisa mendengarkan
suara-suara bijak lebih jelas, hanya dalam sepi aku bisa lebih jelas
mendengarkan suara-suara merdu yang bisa membuatku ikut bernyanyi".
Angsa berbulu emas juga pernah bertanya " apa kamu bisa menikmati hidup
kamu yang sebentar ini dengan cara begini terus?", Angsa Putih
menjawab dengan yakin " aku bisa menikmati tiap detik waktuku disini,
karena aku melihat semua yang ada disini dari sisi terang". Angsa
bermulu emas mencibir " kamu bohong! " , Angsa Putih menggelengkan
kepalanya " kalau aku tidak bisa menikmati tiap detik waktuku disini,
aku tidak akan bertahan dengan cara seperti ini, aku tidak akan bisa
bicara seperti ini. Aku akan terus berenang mengikuti arus, karena aku
tahu, tidak ada gunanya menentang arus. Tidak akan membawa perubahan." .
Angsa bermahkota menggeleng-gelengka n kepalanya, lalu berkata " Angsa
putih kenapa aku tidak pernah merasakan apa yang kamu rasakan? aku tidak
bisa hidup sepertimu", angsa putih segera menjawabnya " karena kita
memang memiliki jalan yang berbeda, kamu tidak harus seperti aku, dan
aku juga tidak harus seperti kamu. Kamu jadilah diri kamu dengan baik,
begitupun dengan aku". " tapi kenapa Angsa putih? " potong angsa
berbulu emas "bersyukur.. " jawan Angsa Putih, " aku tidak mengerti"
sahut Angsa bermahkota " bersyukur dengan yg terjadi pada diri kita.
Jika badai datang biarlah datang, yang harus kita lakukan hanya
mempersiapkan diri menghadapi badai itu". " BERSYUKUR?" ulang Angsa
bermahkota dan Angsa berbulu emas bersamaan dengan intonasi ditekan.
Angsa Putih mengangguk "bersyukur" ulangnya. Sedikit dari kita yang
belajar "bersyukur" dalam menghadapi kerasnya hidup ini. Aku bukan
Angsa Putih itu, tapi aku menyukai filosofi ihklasnya. Bahagia itu bukan
sesuatu yang mutlak, tapi pilihan. Remember this " You can only the
stars when it is dark enough". SMILE UPON UR FACE EASY UR OWN PAIN.
Original Message From : Hanilla Heilatul
 
posted by Imelda at 5:50 AM | 0 comments
Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir
masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang
telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang
stess di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan
poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis - dari porselin,
plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan
beberapa lainnya sangat indah - dan mengatakan pada para mantan
mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan,professor
itu berucap : "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan
mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah
saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik
bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan
stress yang kalian alami."

"Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi.
Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus
bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan
sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar
mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang
lain."

"Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan
pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir
bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang
kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan
yang kita hidupi.

Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk
menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita. "Tuhan memasak dan membuat
kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan
anda. Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup
anda, anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan
keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak
merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan
kesuksesan dlm kehidupan selain dari pekerjaan anda. shared by :
Vincent W
 
posted by Imelda at 5:48 AM | 0 comments
Thursday, February 15, 2007
*Setelah beberapa lagu pujian seperti biasanya pada hari minggu, pembicara
gereja bangkit berdiri dan perlahan-lahan berjalan menuju mimbar untuk
berkhotbah.

"Seorang ayah dan anaknya serta teman anaknya pergi berlayar ke samudra
Pasifik", dia memulai, "ketika dengan cepat badai mendekat dan menghalangi
jalan untuk kembali ke darat. Ombak sangat tinggi, sehingga meskipun sang
ayah seorang pelaut berpengalaman, ia tidak dapat lagi mengendalikan perahu
sehingga mereka bertiga terlempar ke lautan."

Pengkotbah berhenti sejenak, dan memandang mata dua orang remaja yang
mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Dia melanjutkan,
"dengan menggenggam tali penyelamat, sang ayah harus membuat keputusan yang
sangat sulit dalam hidupnya ... kepada anak yang mana akan dilemparkannya
tali penyelamat itu. Dia hanya punya beberapa detik untuk membuat keputusan.

Sang ayah tahu bahwa anaknya adalah seorang pengikut Kristus, dan dia juga
tahu bahwa teman anaknya bukan. Pergumulan yang menyertai proses pengambilan
keputusan ini tidaklah dapat dibandingkan dengan gelombang ombak yang ganas.
Ketika sang ayah berteriak, "Aku mengasihi engkau, anakku!" Dia melemparkan
tali itu kepada teman anaknya. Pada waktu dia menarik teman anaknya itu ke
sisi perahu, anaknya telah menghilang hanyut ditelan gelombang dalam
kegelapan malam. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi."

Ketika itu, dua orang remaja yang duduk di depan, menantikan kata-kata
berikut yang keluar dari mulut sang pembicara. "Sang ayah," si pembicara
melanjutkan, "tahu bahwa anaknya akan masuk dalam kekekalan dan diselamatkan
oleh Yesus, dan dia tidak sanggup membayangkan jika teman anaknya melangkah
dalam kekekalan tanpa Yesus. Karena itu dia mengorbankan anaknya sendiri.
Betapa besar kasih Allah, sehingga Ia melakukan hal yang sama kepada kita."

Sang pembicara kembali ke tempat duduknya sementara keheningan memenuhi
ruangan.

Beberapa saat kemudian, dua orang remaja duduk di sisi pembicara. "Cerita
yang menarik," seorang remaja memulai pembicaraan dengan sopan, "tapi saya
pikir tidaklah realistis bagi sang ayah untuk mengorbankan hidup anaknya
hanya dengan berharap bahwa teman anaknya akan menjadi seorang pengikut
Kristus."

"Benar, engkau benar sekali," jawab pembicara. Sebuah senyum lebar menghiasi
wajahnya dan kemudian di memandang kedua remaja tersebut dan berkata, "Tentu
saja itu tidak realistis bukan? Tapi saya ada di sini untuk memberitahu
kalian bahwa cerita itu membuka mataku tentang apa yang sesungguhnya terjadi
ketika Tuhan memberikan AnakNya untuk saya."

"Engkau tahu ... sayalah teman sang anak itu". *(Anonim)*
*
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
*
**
*Jika seseorang tidak diselamatkan, itu bukan karena ia tidak dapat, tetapi
ia tidak ingin. Satu-satunya rintangan dalam menerima pengampunan dosa
adalah rintangan yang kita buat sendiri. *
 
posted by Imelda at 6:17 AM | 0 comments
Wednesday, January 03, 2007
DELAPAN KEBOHONGAN SEORANG IBU DALAM HIDUPNYA

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat
manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru
sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan
ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat
sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah
di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak,
aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari
ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk
petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan
mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku
dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan
bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati
juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak
suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu
pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan
hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat
ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan
pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah
malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata
:"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan
segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang
dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih
sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera
memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai
ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus
membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah
dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang
semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat
rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga
yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara,
seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras
kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh
cinta" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia
rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota
sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu,
tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim
balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGA N
IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan
itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk
menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau
merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"
----------KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra
atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat
ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang
keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga
ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,
aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup
matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba
dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu
kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk
berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat
ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu
kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar
kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia
sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas
apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah
bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali
lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian
hari.

GbU
With love & peace
Hetty
 
posted by Imelda at 8:08 AM | 0 comments
YESUS vs SANTA CLAUS
>
>
> SANTA CLAUS tinggal di Kutub Utara …
> YESUS ada di mana-mana.
>
> SANTA CLAUS mengendarai kereta luncur …
> YESUS datang di atas awan dan berjalan di atas air.
>
> SANTA CLAUS datang setahun sekali …
> YESUS hadir setiap saat dengan pertolongan- Nya.
>
> SANTA CLAUS memenuhi kaus kakimu dengan kue, coklat dan permen …
> YESUS memenuhi segala kebutuhanmu.
>
> SANTA CLAUS datang lewat cerobong asap tanpa diundang …
> YESUS berdiri di muka pintumu dan mengetuk, kemudian Ia masuk dalam
hatimu
> jika engkau mengundang-Nya masuk.
>
> Kamu harus antri untuk bertemu dengan SANTA CLAUS …
> YESUS hanya sejauh engkau menyebutkan nama-Nya.
>
> SANTA CLAUS mengajakmu duduk di pangkuannya …
> YESUS mengajakmu beristirahat dalam rengkuhan tangan-Nya.
>
> SANTA CLAUS tidak tahu namamu, yang dapat dikatakannya hanyalah "Hai
anak
> kecil, siapa namamu?" …
> YESUS mengenal nama kita sebelum kita ada. Ia bahkan tahu alamat
kita juga.
> Ia tahu masa lalu dan masa depan kita, Ia bahkan tahu berapa jumlah
rambut
> di kepala kita.
>
> SANTA CLAUS punya perut yang gendut seperti tong penuh jelly …
> YESUS punya hati yang penuh dengan cinta.
>
> SANTA CLAUS menawarkan Ho.. Ho.. Ho..
> YESUS menawarkan kesehatan, pertolongan dan harapan.
>
> SANTA CLAUS berkata "Janganlah kamu menangis" …
> YESUS berkata "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Ku, sebab Aku yang
> memelihara kamu."
>
> SANTA CLAUS membuat aneka mainan …
> YESUS menciptakan hidup baru, menyembuhkan hati yang luka, memperbaiki
> hubungan yang berantakan dan menyediakan tempat tinggal bagi kita.
>
> SANTA CLAUS adalah "Pak Tua yang Riang Gembira"
> YESUS adalah "Raja Segala Raja".
>
> SANTA CLAUS membuatmu tertawa terkekeh …
> YESUS memberimu sukacita yang menjadi kekuatanmu.
>
> SANTA CLAUS meletakkan hadiahnya di bawah pohon …
> YESUS adalah hadiah bagi kita dan wafat di pohon salib.
>
> Nyata sekali, tidak ada perbandingan yang sepadan.
> Kita perlu ingat tentang SIAPA perayaan Natal itu sesungguhnya.
>
> YESUS adalah alasan utama kita merayakan Natal .
>
> I still love Santa...Coz X'mas without him, feel like Blue
Xmas.....but more
> love Jesus....*_* coz without HIM in my life, i'm nothing....
>
> Have a blessed day....!!
>
 
posted by Imelda at 8:06 AM | 0 comments
Tuesday, December 19, 2006
*Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois.
Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada
maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi,
tetaplah berbuat baik selalu.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga
teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi,
tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang
dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain
mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi,
teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan
pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan
pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang
lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa
mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan
hatimu.

Mother Theresa.*
 
posted by Imelda at 6:45 AM | 0 comments
Make a personal reflection about this. Very interesting, read until the end...

It is written in the Bible (Galatians 6:7): "Be not deceived; God is not mocked: for whatsoever a man soweth, that shall he also reap". Here are some men and women who mocked God:

JOHN LENNON:
Some years before, during his interview with an American Magazine, he said: "Christianity will end, it will disappear. I do not have to argue about that. I am certain. Jesus was ok, but his subjects were too simple, Today we are more famous than Him" (1966). Lennon, after saying that the Beatles were more famous than Jesus Christ, was shot six times.

TANCREDO NEVES (President of Brazil):
During the Presidential campaign, he said if he got 500,000 votes from his party, not even God would remove him from Presidency. Sure he got the votes, but he got sick a day before being made President, then he died.

CAZUZA (Bi-sexual Brazilian composer, singer and poet):
During a show in Canecão ( Rio de Janeiro ), whilst smoking his cigarette, he puffed out some smoke into the air and said: "God, that's for you." He died at the age of 32 of AIDS in a horrible manner.

THE MAN WHO BUILT TITANIC:
After the construction of Titanic, a reporter asked him how safe the Titanic would be. With an ironic tone he said: "Not even God can sink it" The result: I think you all know what happened to the Titanic.

MARILYN MONROE:
She was visited by Billy Graham during a presentation of a show. He said the Spirit of God had sent him to preach to her. After hearing what the Preacher had to say, she said: "I don't need your Jesus". A week later, she was found dead in her apartment

BON SCOTT:
The ex-vocalist of the AC/DC. On one of his 1979 songs he sang: "Don't stop me, I'm going down all the way, down the highway to hell". On the 19th of February 1980, Bon Scott was found dead, he had been choked by his own vomit.

CAMPINAS/SP IN 2005
In Campinas, Brazil a group of friends, drunk, went to pick up a friend. The mother accompanied her to the car and was so worried about the drunkenness of her friends and she said to the daughter - holding her hand, who was already seated in the car: "MY DAUGHTER, GO WITH GOD AND MAY HE PROTECT YOU."

She responded: "ONLY IF HE (GOD) TRAVELS IN THE BOOT, CAUSE INSIDE HERE IT'S ALREADY FULL" Hours later, news came by that they had been involved in a fatal accident, everyone had died, the car could not be recognized what type of car it had been, but surprisingly, the boot was intact. The police said there was no way the boot could have remained intact. To their surprise, inside the boot was a crate of eggs, none were broken... Boot means trunk.

Many more important people have forgotten that there is no other name that was given so much authority as the name of Jesus. Many have died but only Jesus died and rose again, and He is still alive.

JESUS!!!



P.S: If it was a joke, you could have sent it to everyone. So are you going to have courage to send this?. I have done my part, Jesus said, "If you are embarrassed about me, I will also be embarrassed about you before my father."


What benefit does it have, if a man gains the whole world but loses his soul? What can man give in exchange for his soul? (Matthew 16:26).
 
posted by Imelda at 6:23 AM | 0 comments
"BAGAIMANA KALAU ALLAH PUNYA ANSWERING MACHINE??"

Bayangkan bila pada saat kita berdoa dan mendengar ini :
"Terima kasih, Anda telah menghubungi Rumah Bapa".
Pilihlah salah satu:
* Tekan 1 untuk 'meminta'.
* Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
* Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
* Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau, bagaimana jika Allah memohon maaf seperti ini:
"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah menunggu.
Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."
Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons
seperti ini :
"Jika Anda mau bicara dengan Malaikat Gabriel, tekan 1.
Dengan Malaikat Mikhail, tekan 2.
Dengan malaikat lainnya, tekan 3.
Jika Anda ingin mendengar nyanyian Raja Daud saat Anda menunggu, tekan 4.
"Untuk mengetahui apakah orang yang Anda kasihi akan dipanggil ke Rumah
Bapa, masukkanlah nomor KTP-nya.
Untuk pesan tempat di Rumah Bapa, tekanlah Y, O, H, A, N, E, S dan tekan
3,1,6."

"Untuk jawaban pertanyaan tentang dinosaurus, umur bumi, dan di mana
bahtera Nuh berada, silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini."

Atau bisa juga Anda mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini,
Silakan mencoba kembali esok hari."

"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari
Senin setelah pukul 9 pagi."

Namun puji Tuhan, Allah kita mengasihi kita, Anda dapat menelponNya setiap
saat !!!
Anda hanya perlu untuk memanggilnya sekali dan Tuhan mendengar Anda.

Karena Yesus, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
Tuhan menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara
pribadi.

Ketika Anda memanggil dan Tuhan akan menjawab; Anda akan menangis minta
tolong dan DIA akan berkata : "Ini AKU". ( Yesaya 58 :9 ).

Ketika Anda memanggil, gunakan Nomor Telepon Darurat dibawah ini
* Saat Berduka Cita, putar Yohanes 14.
* Ketika dikecewakan sesama, putar Mazmur 27.
* Jika Anda ingin berbuah, putar Yohanes 15.
* Ketika Anda Berdosa, putar Mazmur 51.
* Ketika Anda kawatir, putar Matius 6:19-34.
* Ketika Anda dalam bahaya, putar Mazmur 91.
* Ketika Tuhan terasa jauh, putar Mazmur 139.
* Ketika Iman Anda perlu dikuatkan putar Ibrani 11.
* Ketika Anda merasa sendiri dan takut, putar Mazmur 23.
* Ketika hidup Anda sedang dalam kepahitan, putar I Korintus 13.
* Untuk Rahasia kebahagiaan Paulus, putar Kolose 3 : 12-17.
* Untuk Arti Kekristenan, putar I Korintus 5 : 15-19.
* Ketika Anda merasa kecewa dan ditinggalkan, putar Roma 8 :31-39.
* Ketika Anda menginginkan kedamaian dan ketenangan, putar Matius 11:25-30.
* Ketika Dunia terlihat lebih besar dari Tuhan, putar Mazmur 90.
* Ketika Anda ingin jaminan Kekristenan putar Roma 8 : 1-30.
* Ketika Anda meninggalkan rumah untuk bekerja atau bepergian, putar Mazmur
121.
* Untuk penemuan/kesempatan besar, putar Yesaya 55.
* Ketika Anda membutuhkan keberanian untuk suatu tugas, putar Yosua 1.
* Supaya dapat bergaul dengan baik terhadap sesama, putar Roma 12.
* Ketika Anda memikirkan kekayaan, putar Markus 10.
* Saat Anda mengalami depresi, putar Mazmur 27.
* Jika Anda kesulitan keuangan, putar Mazmur 37.
* Jika Anda kehilangan kepercayaan terhadap orang, putar I Korintus 13.
* Jika orang di sekitar kita tampak berlaku tidak baik, putar Yohanes 15.
* Ketika Anda putus asa dengan pekerjaan, putar Mazmur 126.
* Jika Anda menemukan bahwa dunia mengecil dan Anda merasa besar, putar
Mazmur 19.

Nomor-nomor tersebut dapat langsung dihubungi. Operator tidak diperlukan.
Seluruh saluran ke Surga terbuka 24 jam sehari!!

Bagikan daftar telepon ini kepada orang-orang disekeliling kita.
Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya.
Jika perlu ajaklah berdoa bersama.

Selamat merenungkan.
 
posted by Imelda at 6:20 AM | 0 comments
There is nothing either good or bad position, but thinking makes it
so. (Tidak ada posisi yang baik atau buruk, pikirkanlah
menciptakannya)
= William Shakespeare =

Baru-baru ini di Atlantic City - AS, seorang wanita memenangkan
sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam
bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan
sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.

Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah
satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana.
Ia berpikir, "Dua orang ini akan merampokku." Tapi pikirnya
lagi, "Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah."

Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai
menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia
sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca
pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!

Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang
mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya.
Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya
Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya
berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.

Lalu, salah satu dari mereka berkata, "Hit the floor" (Tekan
Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan
membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah
uang saya dan biarkanlah saya hidup.

Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata
dengan sopan, "Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda
tuju, kami akan menekan tombolnya." Pria tersebut agak sulit untuk
mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut.
Merekapun menolong wanita tersebut berdiri. "Tadi saya menyuruh
teman saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda
untuk tiarap di lantai lift," kata seorang yang bertubuh sedang.

Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu
berpikir , "Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus
meminta maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan
merampokku." Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke
dalam keranjangnya.

Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat
untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita
itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan
pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita
itu mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan
kembali ke lift.

Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan
malam.

Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap
kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.

Pada kartunya tertulis: "Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah
kita lakukan selama ini."

Tertanda:
> Eddie Murphy
> Michael Jordan

(Eddie Murphy adalah bintang film Holywood, dan Michael Jordan
adalah bintang basket NBA)

* * * *

Sikap hidup kita sangatlah menentukan kehidupan kita. Sikap yang
positif dalam menanggapi persoalan hidup akan sangat berpengaruh
bagi kebahagiaan kita. Pikiran yang negatif akan membawa kita
terperosok jatuh semakin dalam karena kita melihat segala sesuatu
adalah penderitaan.

Namun, pikiran yang positif membawa kita kepada hal-hal yang positif
pula. Positif dalam menghadapi kehidupan yang serba ini, positif
dalam sikap kita kepada sesama, positif merencanakan hari esok dan
positif juga terhadap diri sendiri. Tuhan menciptakan kita luar
biasa. Bersama Tuhan kita sanggup melakukan perkara-perkara besar.

Alkitab dengan jelas mengatakan tentang pentingnya pikiran yang
positif, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua
yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis,
semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut
dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8)
 
posted by Imelda at 6:19 AM | 0 comments
Thursday, November 23, 2006
Ada yang nonton acara reality show Oprah Winfrey, hari Sabtu 9 Sept
2006 yang lalu di MetroTV ?
Pada acara tersebut ditampilkan seorang gadis mungil berusia 5
tahun, asal USA, mengenakan kacamata plastik (mirip kacamata renang), lucu,
manis,secara fisik terlihat normal (agak gemuk), dan berperilaku
seperti anak-anak seusianya pada umumnya.
Hanya saja, si gadis kecil ini mengidap suatu penyakit bawaan
sejak lahir yang sangat langka, yaitu tidak memiliki rasa sakit (tidak
memiliki syaraf rasa sakit) di sekujur tubuhnya.
Sejak bayi, si kecil jarang rewel, atau menangis. Hanya terkadang
suhu badannya yang menghangat.
Penyakit bawaan yang diderita si kecil itupun baru diketahui
(kalau tidak salah) ketika sang bocah mencolok-colok matanya karena gatal, dan
tidak menangis kesakitan. Hanya saja darah tetap mengalir keluar.
Akibat kejadian tersebut, satu matanya menjadi buta. Setelah kejadian itu,
barulah dikenakan kacamata khusus untuk melindunginya.

Pernah suatu ketika, ketika gigi si kecil sudah tumbuh, saat
kedua orangtuanya agak lengah, si kecil sedang asyik menggigit-gigit
jari tangannya sendiri hingga hancur. Tentu saja si kecil tidak tetap
tenang karena sama sekali tidak merasakan sakit.
Sebagai pencegahan, akhirnya diputuskan untuk mencabut semua
giginya, tanpa sisa. Terutama sebagai pencegahan agar dia tidak sampai
mengunyah lidahnya sendiri karena akan dianggap sebagai permen karet!!
Karena kejadian-kejadian itulah, si kecil mendapat 'perhatian dan pengawasan extra' dari seluruh anggota keluarganya (kedua orang
tuanya dan sang kakak). Karena dia telah kehilangan sensitifitas akan adanya bahayabahaya yang bisa menimpanya, hingga kini.
Karena itu bersyukurlah karena kita masih diberikan rasa sakit
oleh Tuhan,walaupun kita seringkali mengeluh karena rasa sakit tersebut.
 
posted by Imelda at 10:45 AM | 0 comments
Teman – teman,

Diambil dari kisah nyata ..

Cerita di bawah ini mengingatkan kita

untuk mencintai murni dan lebih dalam kepada Tuhan

Ada seorang bocah kelas 4 SD di Milaor Camarine Sur,Filipina

Yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yg bebatuan

Dan selalu menyebrangi jalan raya yg berbahaya

di mana banyak kendaraan melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut,

bocah ini mampir sebentar ke gereja tiap pagi

hanya untuk untuk menyapa Tuhan,Sahabatnya.

Tindakan ini selama ini di amati oleh seorang pendeta yg merasa terharu

Menjumpai sikap bocah yg lugu dan beriman tersebut.

"bagaimana khabarmu Andy,apakah kamu akan ke sekolah?"

"ya,Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyuman yg menyetuh hati
pendeta tersebut

dia begitu memperhatikan keselamatan Andy,sehingga suatu hari dia
berkata

"Jangan menyebrangi jalan raya sendirian,setiap kali pulang sekolah,

kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang dgn
selamat"

"Terima kasih, Bapa Pendeta"

"kenapa kamu tidak pulang sekarang?"

"aku ingin menyapa Tuhan,Sahabatku"

dan pendeta tersebut meninggalkan Andy

untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri,

tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan

apa yg di bicarakan Andy kepada Bapa di sorga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini buruk sekali

tetapi aku tidak mencontek walau temanku melakukannya.

Aku makan satu kue dan minum airku, ayahku mengalami musim paceklik

dan yang bisa kumakan hanya kue ini. Terima kasih buat kue ini,Tuhan!

Tadi aku melihat anak kucing malang yg kelaparan

Dan aku memberikan kueku yg terakhir buatnya..

Lucunya,aku jadi tidak begitu lapar.

Lihat ini selopku yg terakhir, aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu
minggu depan

Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa...

Paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.

Orang-orang berkata bahwa kami akan mengalami musim panen yg susah bulan
ini.

Bahkan beberapa temanku sudah berhenti dari sekolah,

Tolong bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi,Tolong Tuhan...

Oh ya, Engkau tahu bahwa ibuku memukul aku lagi,ini memang menyakitkan

Tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih mempunyai
seorang ibu

Tuhan, Engkau mau melihat lukaku ?? aku tahu Engkau dapat
menyembuhkannya

Disini... disini… aku rasa Engkau tahu yg ini kan...??

tolong jangan marahi ibuku ya!!

Dia hanya sedang lelah dan khawatir akan kebutuhan makan dan biaya
sekolahku

Itulah mengapa dia memukul aku.

Oh,Tuhan.. aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini.

Ada seorang gadis yg sangat cantik sekali di kelasku,.. namanya Anita.

Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??

Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku

Karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu,

Engkau adalah Sahabatku.

Hei… Ulang tahunMu tinggal dua hari lagi !! apakah Engkau
gembira..??

Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu, tapi ini
kejutan.

Aku berharap Engkau menyukainya. .

Oooppsss... aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta.

"Bapa Pendeta.. Bapa Pendeta.. aku sudah selesai berbicara dengan
Sahabatku,

anda bisa menemaniku menyebrangi jalan sekarang"

kejadian tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen
sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaatnya di Gerejanya setiap
hari minggu

Karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yg murni kepada
Tuhan...

Suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, pendeta Agaton jatuh sakit, sehingga tidak bisa
memimpin gereja

Dan di rawat di rumah sakit, gereja tersebut di serahkan kepada 4 wanita
tua

Yg tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan yg orang lain perbuat.

Mereka juga mengutuki orang yg menyinggung mereka.

Ketika 4 wanita itu sedang berdoa, Andy tiba di Gereja tersebut

usai menghadiri Pesta Natal di sekolahnya.

Dan menyapa " Hallo Tuhan… ini aku"

"kurang ajar kamu,bocah!!

Tidahkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa??

Keluar ,kamu....!!"

Andy begitu terkejut "dimana Bapa Pendeta Agaton?

Dia seharusnya membantuku menyebrangi jalan raya...

dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja.

Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus,

karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah
untukNya.... "

ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya,

seorang dari ke-empat wanita itu menarik kerahnya dan mendorong keluar
Gereja

"...keluar kamu bocah!! "

Andy tidak punya pilihan lain kecuali pergi

Sendirian menyebangi jalan raya yg berbahaya tersebut di depan Gereja,

ketika dia menyebrang. Tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang

- di situ ada tikungan yg tidak terlihat pandangan.

Karena sibuk Andy melindungi hadiah kedalam saku bajunya,

sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut,

waktunya hanya sedikit untuk menghindar…

Dan Andypun tewas seketika....

orang-orang di sekitar berlarian

dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yg sudah tidak bernyawa
lagi.

Tiba-tiba,

entah muncul darimana ada Seorang berjubah putih dgn wajah yg halus dan
lembut.

Namun dengan penuh airmata datang dan memeluk Andy, Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya...

"maaf tuan, apakah anda keluarga dari bocah yg malang ini..??

apakah anda mengenalnya. .??"

tetapi Pria tersebut dengan hati yg berduka karena penderitaan yg dalam
berkata

"dia adalah sahabatKu" hanya itulah yg dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku Andy dan menaruh di
dadaNya.

Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut,

kemudian keduanya menghilang.

Orang-orang yg ada di sekitar semakin penasaran dan takjub...

Di malam Natal, Pendeta Aragon menerima berita yg sangat mengejutkan
tersebut.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius
tersebut.

Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

"bagaimana anda mengetahui putera anda telah meninggal..? ?"

"seorang pria berjubah putih yg membawanya kemari" ucap ibu Andy
terisak.

"apa katanya…??"

ayah Andy berkata

"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, Dia sangat berduka

kami tidak mengenalNya namun Dia terlihat sangat sedih atas meninggalnya
Andy,

sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan sangat baik,

tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk di jelaskan mengenai diriNya.

Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut, Dia menyibakan rambut
Andy

Dan memberikan kecupan di keningnya, kemudian Dia membisikan sesuatu
…"

"apa yang di katakanNya…?? "

"Dia berkata kepada puteraku…" ujar sang ayah

"terima kasih buat kadonya, Aku akan berjumpa denganmu,engkau akan
bersamaKu"

dan sang ayah melanjutkan

"anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah...

aku menangis tetapi aku tidak tahu mengapa bisa demikian..

yang aku tahu aku menangis karena bahagia…

aku tidak dapat menjelaskanya Bapa Pendeta,

tetapi ketika Dia meninggalkan kami,

ada suatu kedamaian yg memenuhi hati kami,

aku merasakan kasihNya begitu dalam di hatiku…

aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku…

aku tahu, puteraku sudah berada di surga sekarang!!

Tapi tolong Bapa Pendeta…

siapakah Pria ini yg selalu bicara dengan puteraku di Gerejamu..??

anda seharusnya mengetahui karena anda selalu disana setiap hari,

kecuali pada saat anakku meninggal"

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya,

dengan lutut gemetar dia berbisik

" Andy tidak pernah bicara dengan siapa-siapa…. kecuali dengan
Tuhan,Sahabatnya"

Amsal 17:17

"seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,

dan menjadi seorang saudara di dalam kesukaran"

original message from :

Thyuniar

J God Bless U
 
posted by Imelda at 10:42 AM | 0 comments
Thursday, October 12, 2006
"Ucapan Bahagia Versi Iblis"

Sejak kecil saya sangat suka membaca pasal-pasal "Khotbah Di Bukit", terutama perikop tentang "Ucapan Bahagia" Tuhan Yesus.Namun saya cukup tersentak ketika membaca "Ucapan Bahagia versi Iblis" yang saya terima melalui sebuah email, tetapi di sisi yang lain, " Ucapan Bahagia versi Iblis" ini mengingatkan saya untuk lebih berjaga-jaga, karena saat ini kita memang hidup di hari-hari yang jahat, dimana Iblis bekerja luar biasa giatnya.

"Ucapan Bahagia versi Iblis" bunyinya kira-kira seperti ini :

---Berbahagialah orang yang terlalu capek karena kesibukan mereka, sehingga mereka tidak punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Mereka adalah anak-anakku yang mengerti kerinduan hatiku yang terdalam.

---Berbahagialah orang yang selalu mengharapkan pujian atas apa yang mereka perbuat. Aku bisa memperalat dan menunggangi ambisi mereka melalui pujian.

---Berbahagialah orang yang memelihara hati yang terlalu sensitif. Dengan sedikit "sentilan" saja mereka tersinggung. Mereka akan kurang bersemangat di dalam bekerja dan akan segera menghilang dalam pelayanan. Mereka ini adalah fansku yang setia.

---Berbahagialah mereka para pembuat masalah. Mereka akan disebut
anak-anakku.

---Berbahagialah orang yang selalu mengeluh. Aku senang karena benih
sungut-sungut yang kutabur bertumbuh subur di hati dan lidah mereka.

---Berbahagialah mereka yang egois, suka mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Mereka adalah pengikut-pengikutku yang setia.

---Berbahagialah mereka yang suka menggosip, karena mereka akan menimbulkan perpecahan dan pertengkaran. Ini sungguh sangat menyenangkan hatiku.

---Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan, tetapi membenci saudara-saudaranya. Mereka akan hidup bersamaku selamanya sampai ke
kekekalan.

---Berbahagialah orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, penganiayaan\ n
dengan penganiayaan dan kebencian dengan kebencian. Mereka akan mendapat
upah yang sama denganku di kegelapan.

---Berbahagialah orang yang membaca tulisan ini dan merasa isinya pas untuk
orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri. Dia ada dalam tanganku.\n

Keputusan untuk masuk ke dalam kelompok orang yang berbahagia menurut versi
Tuhan Yesus atau versi Iblis ada di tangan kita! Jika ingin menjadi orang
yang berbahagia menurut versi Tuhan Yesus, kita harus hidup dalam ketaatan\n
dan berjaga-jaga seperti halnya kelima orang gadis yang bijaksana (MAT
25:1-13). Jagalah pelita hati kita agar tetap menyala. Isilah minyaknya
setiap hari dengan berdoa dan merenungkan firmanNya
 
posted by Imelda at 8:18 PM | 0 comments
Sunday, October 01, 2006
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidak percayaan.
Tidak mungkin ini tempatnya. Sebenarnya, tidak
mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa
kali, oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru akhirnya
memutuskan untuk melihat tempatnya seperti apa sih. Tapi, tidak
mungkin ini tempatnya. Dengan cepat, aku melihat pada undangan yang
ada di genggamanku.
Aku memeriksa dengan teliti kata-katanya,
"Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi"
dan menemukan lokasinya.
Ya ... aku berada di tempat yang benar. Aku mengintip lewat
jendelanya sekali lagi dan melihat sebuah ruangan yang penuh
dengan orang-orang yang dari wajahnya terpancar sukacita.
Semuanya berpakaian rapi, diperindah dengan pakaian yang bagus
dan terlihat bersih seperti kalau mereka makan di restoran yang
bagus.
Dengan perasaan malu, aku memandang pada pakaianku yang buruk
dan compang camping, penuh dengan noda. Aku kotor, bahkan
menjijikan.
Bau yang busuk ada padaku dan aku tidak dapat membuang kotoran
yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan berputar untuk
meninggalkan tempat itu, kata-kata dari undangan tersebut
seakan-akan meloncat keluar, "Datanglah sebagaimana kamu adanya.
Tidak perlu ditutup-tutupi."

Aku memutuskan untuk mencobanya. Dengan mengerahkan semua
keberanianku, aku membuka pintu restoran dan berjalan ke arah
laki-laki yang berdiri di belakang panggung.

"Nama Anda, Tuan ?" ia bertanya kepadaku dengan senyuman.
"Johny Alim," kataku bergumam tanpa berani melihat ke atas.
Aku memasukkan tanganku ke kantongku dalam-dalam,
berharap untuk dapat menyembunyikan noda-nodanya. Ia sepertinya
tidak menyadari kotoran yang berusaha aku sembunyikan dan ia
melanjutkan, "Baik, Tuan. Sebuah meja sudah dipesan atas
nama Anda.
Anda mau duduk ?"
Aku tidak percaya atas apa yang aku dengar !
Aku tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja!"
Ia mengantarkanku ke sebuah meja dan, cukup yakin, ada plakat
dengan namaku tertera dengan tulisan tebal merah tua.

Ketika aku membaca-baca menunya, aku melihat berbagai macam
hal-hal yang menyenangkan tertera di sana.
Hal-hal tersebut seperti "damai", "sukacita","berkat",
"kepercayaan
diri","keyakinan", "pengharapan", "cinta kasih", "kesetiaan",
dan "pengampunan".
Aku sadar bahwa ini bukan restoran biasa ! Aku mengembalikan
menunya ke depan untuk melihat tempat di mana aku berada.
"Kemurahan Tuhan" adalah nama dari tempat ini !

Laki-laki tadi kembali dan berkata, "Aku merekomendasikan sajian
spesial hari ini.
Dengan memilih spesial menu hari ini, Anda berhak untuk
mendapatkan semua yang ada di menu ini."

Kamu pasti bercanda ! pikirku dalam hati.
Maksudmu, aku bisa mendapat SEMUA yang ada dalam menu ini ?

"Apa menu spesial hari ini ?" aku bertanya dengan penuh
kegembiraan.
"Keselamatan," jawabnya.
"Aku ambil," jawabku spontan.
Kemudian, secepat aku membuat keputusan itu,
kegembiraan meninggalkan tubuhku.
Sakit dan penderitaan merenggut lewat perutku
dan air mata memenuhi mataku. Dengan menangis tersedu sedan,
aku berkata, "Tuan, lihatlah diriku.
Aku ini kotor dan hina.
Aku tidak bersih dan tidak berharga.
Aku ingin mendapat semuanya ini, tapi aku tidak dapat
membelinya."
Dengan berani, laki-laki itu tersenyum lagi.
"Tuan, Anda sudah dibayar oleh laki-laki di sebelah sana,"
katanya sambil menunjuk pintu masuk ruangan.
"Namanya Yesus."

Aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki yang kehadirannya
membuat terang seluruh ruangan itu. Aku melangkah maju ke arah
laki-laki itu, dan dengan suara gemetar aku berbisik,
"Tuan, aku akan mencuci piring-piring atau membersihkan lantai
atau mengeluarkan sampah.
Aku akan melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk
membayarMu kembali atas semuanya ini."

Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyuman,
"Anakku, semuanya ini akan menjadi milikmu,
cukup hanya bila kamu datang kepadaKu.
Mintalah padaKu untuk membersihkanmu dan Aku
akan melakukannya.
Mintalah padaKu untuk membuang noda-noda itu
dan itu terlaksana.
Mintalah padaKu untuk mengijinkanmu makan di
mejaKu dan kamu akan makan.
Ingat, meja ini dipesan atas namamu.
Yang bisa kamu lakukan hanyalah MENERIMA
pemberian yang sudah Aku tawarkan kepadamu."

Dengan kagum dan takjub, aku terjatuh di
kakiNya dan berkata, "Tolong, Yesus.
Tolong bersihkan hidupku.
Tolong ubahkan aku, ijinkan aku duduk di mejaMu
dan berikan padaku sebuah hidup yang baru."
Dengan segera aku mendengar,
"Sudah terlaksana."
Aku melihat pakaian putih menghiasi tubuhku
yang sudah bersih.
Sesuatu yang aneh dan indah terjadi. Aku merasa
seperti baru, seperti sebuah beban sudah terangkat dan aku
mendapatkan diriku duduk di mejaNya.
"Menu spesial hari ini sudah dipesan," kata Tuhan kepadaku.
"Keselamatan menjadi milikmu."
Kami duduk dan bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya
dan aku sangat menikmati waktu yang kuluangkan denganNya.
Ia berkata kepadaku, dan kepada semua orang,
bahwa Ia ingin aku kembali sesering aku ingin bantuan lain dari
Kemurahan Tuhan. Dengan jelas Ia ingin aku meluangkan waktuku
sebanyak mungkin denganNya.

Ketika waktu sudah dekat bagiku untuk kembali ke 'dunia nyata',
Ia berbisik padaku dengan lembut,
"AKU MENYERTAI KAMU SELALU."
Dan kemudian, Ia berkata sesuatu yang tidak
akan pernah aku lupakan.
Ia berkata, "Anakku, lihatkah kamu beberapa meja yang
kosong di seluruh ruangan ini ?"
"Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Apa artinya?" jawabku.
"Ini adalah meja-meja yang dipesan, tapi tiap-tiap individu yang
namanya tertera di tiap plakat ini belum menerima undangan untuk
makan. Maukah kamu membagikan undangan-undangan ini?
 
posted by Imelda at 4:44 PM | 0 comments
"Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja."
Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa
mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang. ga usah
repot-repot ma, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah
tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru
kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini
dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang
fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel
yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung
untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah
membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan
apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku kalau telah
menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap
sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama
berkata,
"Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah
dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan
sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu
lakukan sendiri"

Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani
putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah
kusadari sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua
menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat
arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam
usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak
kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu
ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah
kebanggaan buat mama.
Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu
kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan
kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini
sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan
ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku
kehidupan..

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik
anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisadilimpahkan
kepada siapapun. Ah, maafin kami mama..... 18 jam sehari sebagai "pekerja"
seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Tuhan?

--- +++ ---

"Rosa, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. "
Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama
sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya
lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih mama, aku beruntung sekali
memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama." Kulihat binar
itu memancarkan kebahagiaan. .

Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu. .
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

--- +++ ---

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat
"Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan
rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu..
Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat
mereka sangat berarti dan bahagia..

--- +++ ---

"Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan
mama.
Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu..

Titip mamaku ya Tuhan.."

Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang
mencintai Ibunya.
--
------------ --------- ----.oooO- --------- --------- --------- -------
( ) Oooo.
\ ( ( )
\_) ) /
(_/
2 Yoh. 1:9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi
yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal
di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.
Makasih Tuhan memberkati !


www.aritonang.com
 
posted by Imelda at 7:03 AM | 0 comments
dari www.aritonang.com

Sudah satu minggu ini ikan sapu-sapu ku meninggal dunia. Sejak saat
dia meninggalkan akuariumku, baru tiga hari saja tidak dibersihkan,
lumut pasti akan bermunuculan di akuarium kesayanganku.

Aku tidak ada waktu untuk membersihkan lumut-lumut itu dan juga tidak
ada waktu untuk membeli ikan sapu-sapu yang baru. Suatu hari kudapati
lumut sudah memenuhi kaca bagian dalam akuariumku. Aku berpikir, ini
tidak bisa dibiarkan. Keindahan ikan-ikan koki ku akan tersembunyi
jika lumut-lumut itu kurelakan tumbuh dengan sehatnya menemani mereka.
Ikan-ikan sapu-sapu, bisa menjadi solusi untuk membantuku membersihkan
lumut- lumut itu. Sapu-sapu adalah ikan yang makanan utamanya adalah
lumut dalam akuarium atau kolam ikan.

Di sela-sela sempitnya waktuku, sepulang kerja kuluangkan waktu untuk
mampir ke toko ikan dekat rumahku. Aku berkeliling mencari ikan hitam
yang tidak menarik dan berkulit kasar itu. Akhirnya kutemukan satu
ikan sapu-sapu yang tidak begitu suram kulitnya, walaupun tetap tidak
indah dipandang mata dan tetap saja kulitnya akan kasar.

"Berapa Pak, harganya?" tanyaku pada si penjual ikan itu.

"Tujuh ratus lima puluh rupiah, Mbak," jawab si penjual itu.

Segera kusodorkan uang dan setelah itu langsung ku tapakkan kakiku
menuju rumah.

Ikan sapu-sapu itu lalu aku cemplungkan ke dalam akuarium. Dengan
sigap dan bagai habis lepas dari kurungan ikan itu langsung meliuk-
liuk. Dan ... betapa senangnya dia menemukan sebuah sisi kaca yang
penuh dengan lumut. Ikan itu langsung menempel di kaca penuh lumut
tersebut. Tidak peduli dengan ikan-ikan kokiku yang seakan sedang
mengerumuni ikan sapu-sapu itu untuk berkenalan.

Lagi-lagi karena tidak ada waktu, ikan itu memang hanya kucemplungkan
dulu tanpa kubersihkan akuariumnya. Pikirku weekend nanti pasti aku
ada waktu.

Keesokan harinya, saat akan berangkat ke kantor, kusempatkan menyapa
ikan-ikan kokiku. Wow, pagi ini mereka tampak begitu indah .... Tapi
bukankah memang ikan kokiku itu warnanya indah. Ehhh ... tapi kok lain
ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Terus kuamati
ikan-ikan kokiku dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera
yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Terus kuperhatikan mereka
karena terlalu indah bagiku untuk kutinggalkan.

Saat pandanganku tertuju di pojok akuariumku, ada seekor ikan hitam
yang tidak bersinar sama sekali. Dia seolah sedang menepi dalam
dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu.

Aku tersadar .... Ya, ikan-ikan kokiku terlihat begitu indah dan
bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di
sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca
akuariumku buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumku kembali
bening sehingga ikan-ikan indahku terlihat semakin indah. Ikan yang
tidak menarik yang kubeli kemarin dengan harga murah itu telah melahap
habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu kubeli, tetapi aku
tidak tahu akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini.

Kupandangi kembali ikan hitam yang sedang menyendiri itu. Dia yang
tidak menarik itu telah membuat sesuatu yang indah untukku pagi ini.

Ikan sapu-sapu sangatlah tidak menarik. Dia tidak punya kelebihan
fisik yang dapat dibanggakan. Harganya pun sangat murah. Tetapi, Tuhan
memberikan kelebihan luar biasa pada dia. Dia dapat membersihkan
permukaan kaca yang begitu kotor menjadi bening kembali. Itulah yang
membuat ikan sapu-sapu begitu dicari-cari oleh siapa saja yang ingin
akuarium atau kolam ikannya terbebas dari lumut.

Aku ingat diriku. Begitu banyak protesku pada Tuhan karena merasa aku
tidak memiliki kelebihan dari segala sisi. Tuhan memakai ikan kecil
itu untuk menyadarkan aku, "Kuciptakan dirimu bukan untuk hal yang
tidak berguna. Kau ada di dunia ini karena kau berarti bagi-Ku, untuk
melakukan hal-hal besar bagi-Ku!"

Aku masih terpaku di depan akuariumku. Aku masih menatap ikan kecil
yang tidak menarik itu. Aku seperti menatap diriku. Hari ini Tuhan
memberikan aku pelajaran indah dari seekor ikan. Hari ini, Tuhan tidak
ingin aku semakin tenggelam dalam pencarian arti hidupku di dunia ini.

Aku berarti bagi-Nya, aku berharga bagi-Nya. Dalam pandangan mata aku
memang tidak semenarik mereka yang ada di sekelilingku, tetapi ada hal
istimewa yang Tuhan berikan padaku, dan aku yakin itu akan jadi berkat
bagi banyak orang, karena Tuhan yang menganugerahkannya.

Aku beranjak dari depan akuariumku. Jam di tanganku sudah menunjukkan
waktu untuk segera berangkat ke kantor. Semangatku menapaki hari-hari
ke depan kembali menyala. Kuucapkan syukur untuk semua pelajaran indah
ini.

Terima kasih Tuhan! Terima kasih ikan sapu-sapu ku!._,_.___
 
posted by Imelda at 6:59 AM | 0 comments
Thursday, September 28, 2006
Bisakah kita seperti mereka jika kita berada dalam situasi yang sama?


Ditembus Peluru, Dominggus Teriak ''Ya Bapaku, Ampunilah Mereka''

PALU- Sungguh mengenaskan sekaligus mengharukan. Detik-detik akhir Tibo
cs menjemput ajal di ujung bedil eksekusi mati pada Jumat (22/9) pukul
01:35 wita lalu, ternyata menyimpan kisah mengharukan. Uskup Manado Mgr
Yoseph Suwatan MSC kepada koran ini tadi malam menuturkan sejumlah kisah
terakhir ketiga terpidana mati itu, masing-masing Fabianus Tibo, Marinus
Riwu dan Dominggus da Silva. ''Saya mau kisahkan ini dengan tujuan agar
masyarakat mengetahui persis bahwa mereka bertiga sudah sangat siap
batin,'' tutur Suwatan yang juga pemimpin umat Katolik hingga ke wilayah
Sulteng dan Gorontalo itu. ''Yang tak kalah penting,'' lanjut Suwatan
yang jelang eksekusi intens mendampingi Tibo cs itu, ''Saya mau
meluruskan banyaknya isu yang menyebutkan kalau Om Tibo dan
teman-temannya itu dianiaya atau malah mati lebih dulu sebelum
dieksekusi. Itu isu tidak benar,'' tegasnya. Sebab, berdasarkan laporan
resmi yang diterima pihaknya, ketiganya sebelum diekskusi diperlakukan
baik hingga ditembak mati. ''Meski yang kami sesalkan adalah prosedur
pemakaman Dominggus serta jelang eksekusi jenazah mereka tak diijinkan
dilakukan misa sesuai tradisi gereja,'' tutur Uskup.

Menyinggung kisah terkait detik-detik akhir ketiganya, Suwatan dengan
nada bergetar menyatakan kalau, baik Tibo, Marinus dan Dominggus, punya
cerita menyentuh. Tibo misalnya. Ketika mengikuti Misa khusus yang
digelar di Lapas Palu pada pukul 11:00 wita, sekalian menanti eksekusi
malam, berulangkali memeluk istri dan anak-anaknya. Dengan nada bijak
dan tanpa tekanan, kisah Suwatan, Tibo berpesan panjang lebar, ''Jangan
ada dendam setelah eksekusi papa. Biarkan papa pergi dengan tenang dan
damai. Papa sudah sangat siap. Sudah begini jalan hidup papa. Mari
diimani saja,'' tutur Suwatan mengutip kisah ketiganya. Perayaan Misa
khusus dipenjara dipimpin langsung tiga pastor dari Manado yang bertugas
di Palu. Yakni, Pastor Melky Toreh MSC dan Pastor Jemmy Tumbelaka MSC.
Usai misa dan ditinggal keluarga, ketiga terpidana mati, memilih berada
di ruangan mereka. Ketiganya secara khusuk memilih berdoa dan terus
berdoa serta bernyanyi. Ini dilakukan hingga menjelang sore.

Yang menyedihkan, kisah Suwatan, menjelang persiapan eksekusi sore,
suasana Lembaga Pemasyarakatan diwarnai isak tangis dari para petugas
Lapas. ''Semua minta maaf kepada Om Tibo, Dominggus dan Marinus,''
kisahnya. Saat itu, ketiganya menolak tawaran makan malam. ''Kecuali
minta dibuatkan gorengan buah sukun campur gula aren.'' Setelah itu?
Ketiganya kian khusuk berdoa hingga kemudian dijemput petugas. ''Saat
itu, Marinus mendadak minta sisir dan parfum.'' Ketika ditanya kenapa
harus berpakaian rapi. Marinus dengan tenang menjawab. ''Ya, saya ini
orang Katolik. Saya harus rapi dan harum karena sedikit lagi mau
menghadap Tuhan saya.'' Sedangkan Dominggus, sebelum naik ke kendaraan
yang akan membawa mereka dieksekusi, mendadak turun dari mobil dan
menemui salah seorang pegawai Lapas yang ternyata berteman baik
dengannya. ''Heh, kau lihat baik-baik ya kau punya anak. Kau harus rawat
dia,'' kisah Suwatan. Dominggus ternyata selama bertahun-tahun tinggal
di Lapas dekat dengan anak-anak para pegawai Lapas.

TERIAK AMPUNI
Sementara, sumber lain koran ini di Polda Sulteng di Palu menyebutkan,
jelang dieksekusi, ketiga terpidana tidak langsung menempati posisi
penembakan. Sebaliknya, mereka ditanya apakah akan ditembak dengan
berdiri atau duduk. ''Mereka serempak menjawab memilih ditembak saat
duduk saja,'' tutur sumber. Uskup Suwatan membenarkan keterangan sumber
ini. ''Memang benar saat sebelum ditembak, mereka memilih duduk saat
ditanya petugas,'' kata Uskup. Lalu, saat mata ketiganya akan ditutup,
mendadak Marinus menolak. ''Saya ingin mata tetap terbuka. Ijinkan saya
menyaksikan langsung.'' Permintaan Marinus dikabulkan. Sedangkan Tibo
dan Dominggus tetap ditutup matanya.

Tepat pukul 01:50 wita, bunyi bedil dari tim eksekutor terdengar. Hanya
dalam hitungan detik, begitu prosesi maut selesai, tiga anggota tim
dokter yang sudah berada di lokasi, salah satunya adalah dokter asal
Langowan, Minahasa yang bertugas di Palu, langsung diminta untuk
memeriksa mereka. ''Menurut dokter perempuan itu yang asal Langowan
kepada saya, eksekusi ketiganya memang sesuai. Ketiganya langsung
diproses dan otopsi,'' tambah Uskup. Sementara, sumber lain di lokasi
kejadian mengisahkan bahwa saat peluru maut itu menancap di tubuh
ketiganya, tubuh ketiganya tersentak dan kepala mereka sempat terangkat
lalu lunglai, ambruk, tewas. Berbeda dengan Tibo dan Marinus yang tampak
tenang dan diam. Tapi, suara yang diperkirakan dari Dominggus sempat
berkata setengah berteriak, ''Ya Bapa Ampunilah mereka!''. (dino
gobel's)<<<<
 
posted by Imelda at 12:39 AM | 0 comments
Sunday, July 09, 2006
In Memoriam Mas Budi @CAVIDO

Sinar pagi ..........

Indahmu menyeruak alam

Hangatmu menyambut salam

Tebarkan kasih dan sayang

Aku merasakan .........



Kau angkat embun pagi

Yang telah menemaniku

Semalam dalam lelap

Dari rasa kesejukannya

melelapkan impian indah



Tak pernah kuabaikan

Ucapkan salam setia

"Selamat pagi cinta"

Dalam segenap angan

Dalam segenap renungan

Kubertanyakan dalam doa

Dikelak mendatang

Temani akukah kiranya engkau?

Sinar pagi ..........





Sinar pagi dlm kasih

Sinar pagi……..

Hangatmu membalut hamparan bumi

Kasihmu menghangatkan makluk ilahi

Pelukanmu mengasihi semangat insani

Sinarmu memelukkan jiwa raga nurani



Kusongsong dengan riang nan seri

Kusambut lambainmu dengan hati

Bersama makluk illahi kubernyanyi

Serukan nikmatnya rasa indahnya

Sinar pagi ………



Terimakasih “PAGI”………
 
posted by Imelda at 9:38 AM | 0 comments
Ceritanya bagus dan bermanfaat! "Shi Sang Chi You Mama
Hau" Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang
pria
berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota
tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati. Sang wanita hamil di luar
nikah. Sang pria lalu mengajaknya
menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka
duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kotatsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia. Sang wanita
merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan
wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus
berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya,
sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu,
umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya). Sebulan
telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang
tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena
gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya. Sang pria akhirnya
menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia
memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu
keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh
orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya
di
dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang
besar. Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang
telah
ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat
terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan
mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi
anaknya
akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis
yang
akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara
perlahan2. Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak,
dengan
permohonan agar wanita tsb meninggalkan kotaini, tidak bertemu dengan
anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan
untuk
membiayai hidupnya di tempat lain. Sang wanita menangis
tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia
sadar
bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kotaini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
sulit?. Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk
meninggalkan sepucuk suratkepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih
berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia
kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang
ibu. Dengan berat hati, sang wanita menulis surat. Ia
menjelaskan
bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar
bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama
dalam
menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat
lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air
mata sang wanita tampak membasahi surattersebut. Sang wanita yang
malangtsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia
terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota
itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========0000000000============== Tiga tahun telah berlalu.
Ternyata wanita tersebut telah
menjadi
seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan
malam,
untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di
sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan
menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua
pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun ia cukup
berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan,
karena
ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak pernah
mengeluh dengan pekerjaannya? Di usia tiga tahun, suatu saat,
sang anak tiba2 sakit keras.
Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb
harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman. Saat
diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk
membuat
sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya
mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk
membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah
berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan belum
terbayar. Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu
harus berbuat
apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian. Diantara
tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari
alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.
Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil
sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang
tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang
ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?.. Hujan
lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan
kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh
anaknya
sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang
dilakukan oleh sang ibu???.

==========0000000000============== Enam tahun telah berlalu,
anaknya tumbuh menjadi seorang anak
yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama,
dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau" (terjemahannya
"Di
Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik"). Sang anak juga sudah
sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai
penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari2
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak terkadang
memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia
tahu
ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk
sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas. Ia juga tahu,
bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia
berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama
ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak
setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai. Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang
tidak jauh dari
rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan
tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?"
tanya
sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata sang anak
dengan serius. Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul
untuk membeli jam
tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.
Ketika
menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu mendapatkan uang
itu? Bukan mencuri kan?". "Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari
ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah.
Selama
sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang
jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi
ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia
akan
marah" kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak
tsb. Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari.
Sang
anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan
tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan
ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari mana
uang
untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau
menjawab. "Apakah kamu mencuri, Nak?" Sang anak diam seribu
bahasa, ia
tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah
ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah
mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu
sudah
mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu. Lalu ibu
mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu
sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih,
karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus melakukannya,
demi
kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak terdengar keluar.
Paratetangga menuju
ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui
kejadiannya.
"Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya. Kebetulan
sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya
yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke rumah itu,
ia segera mengenal anak
itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk
menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya. "Nak,
ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan
tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti
nasehat
kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba2
muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan
tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di
tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang
membeli jam tangan kesukaan ibunya. Tampak sang kakek
meneteskan air mata saat selesai menjelaskan
hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak
kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu?."Maafkan saya, Nak."
"Tidak Bu, saya yang bersalah"???..


===========000================= Sementara itu, ternyata ayah
dari sang anak sudah menikah,
tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih
akan
hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka
kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam
sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri.
Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya
hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa
bantuanmu. Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria.
Mereka
begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000================== Di pertengahan tahun, penyakit
sang anak kembali kambuh. Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang
konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan
jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan
sebelumnya.
Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup
membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak
menemukan
solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada
sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai
perawatannya. Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak
anaknya
berkeliling kota, bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira
sekali,
menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan mereka.
Untuk
sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam
kegembiraan bersama sang anak. Sepulang ke rumah, ibu
menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. "Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata
ibu.
"Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah
sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap
saat. Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya.
Keduanya
sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang,
sang
anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya, sang
anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu", teriak sang
anak
dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata
"Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan
nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya
mau
ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak
mau
saya lagi", sang anak mulai menangis. Bujukan demi bujukan
ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb
tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa
dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini",
ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya meronta2
dengan ledakan tangis yang memilukan. Di rumah, sang ibu
kembali meratapi nasibnya. Tangisannya
begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik.
Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah
kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya
tercinta. Kemudian ibu yang malangitu mengambil pisau dapur
untuk
memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya
mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga??..

============000========= Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah
ke tempat lain,
mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun
tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap
bulan. Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun
ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang
ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang
memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga,
sepucuk suratyang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu
ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan
memberikan semuanya untuk ibu. Sang anak berlari riang gembira
melewati gang-gang kecil
menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk suratanaknya. Sang
ibu
tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya dalam
suratitu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya
pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa
bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik. Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon agar
bisa bertemu dengan dirinya. Benar saja, ternyata sang anak
berada di sana. Tetapi ia
pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya
untuk
dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh
dari
tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah????..

============000============== Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini
sang anak sudah memasuki
bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan
ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya
nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar
untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
"Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
"Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak ibu?".
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi???. Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur
kepalanya
menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus
mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila?.

============000=============


Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan
rela mengorbankan nyawanya?..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.
2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun ?

Tidak diragukan lagi
"Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini"

++++++++++++++++++++++

Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada2 tindakan yang dapat Anda
lakukan :

1. Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia
ini),
ajaklah ia untuk keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2.
Bila Ibu Anda tinggal di tempat yang terpisah jauh dengan Anda, telponlah
dia malam ini juga, just to say "hello". Catatlah hari ulang tahunnya,
rayakan, dan bahagiakanlah dia semampu Anda. Hidangkan makanan favoritnya,
dst.

2. Kirimkan kisah film ini kepada saudara/i Anda, teman2
Anda, maupun rekan2 kerja Anda (minimal 5, kalau 100 org lbh baik lagi J).
Bagi sebagian dari mereka, kisah ini mungkin akan seperti setetes embun
yang
menyegarkan jiwa mereka, yang terkadang terlalu sibuk dengan aktivitasnya
sendiri. Anda sungguh berjasa dalam hal ini??
 
posted by Imelda at 9:32 AM | 0 comments