Tuesday, November 29, 2005
Seorang lelaki mendatangi imam di pastoran. Dia ingin membuat lelucon maka ia bertanya kepada pastor, "Bagaimana roti dan anggur bisa berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus?"

"Dirimu sendiri saja bisa mengubah makanan yang kamu telan menjadi daging dan darahmu, mengapa tidak mungkin Kristus melakukan hal yang sama?" Pastor itu menjawab.

Orang itu tidak menyerah. Ia bertanya lagi, "Tetapi, bagaimana Kristus dapat berada dalam hosti yang kecil?"

"Nyatanya, pemandangan yang amat luas di hadapanmu dapat masuk dalam matamu yang kecil."

Ia masih mendesak, "Bagaimana Kristus hadir dalam semua gereja pada saat yang serentak sama?"

Pastor kemudian mengambil sebuah cermin... Ia menyuruhnya untuk bercermin, lalu ia menjatuhkan cermin itu ke lantai. Pastor berkata kepadanya, "Hanya ada kamu dan kamu bisa menemukan wajahmu dalam kepingan-kepingan cermin ini pada saat yang serentak sama."

************************************
 
posted by imelda at 11:42 AM | 0 comments

Ya Allahku,
aku sangat bersyukur kepadaMu,
Engkau masih memberikanku kehidupan,
Engkau masih menyertaiku saat aku merasa sendirian dan sunyi.
KepadaMu ya Yesus aku serahkan segalanya.

Aku sangat mencintaiMu Tuhan.
Engkau telah memberikan kepadaku,
bahkan apa yang tidak aku minta.
Engkau mengasihiku bahkan juga keluargaku,
teman - temanku, dan semua orang yang ada di sekitarku.
Aku tidak tahu lagi bagaimana harus membalas
semua kebaikanMu ya Tuhan.

Tuhan Yesus, aku mohon cukuplah kasihMu kepadaku,
berikanlah juga kepada yang lainnya yang juga
membutuhkan kasihMu itu.
Mereka juga ingin dikasihi dan diperhatikan olehMu Tuhan.
Mereka menangis dan mengaduh di dalam doa
dan pergumulan hidup mereka.
Mereka meratap dan berpuasa,
memohon agar Engkau datang menghampiri doa-doa
dan persembahan hati mereka.
Tuhan Yesus dengarkanlah,
hanya kepadaMu aku berdoa dan
berterima kasih atas penyertaanMu
kep ada setiap orang yang berlindung padaMu.

Amin
 
posted by imelda at 11:04 AM | 0 comments
Saturday, November 26, 2005
Saat Teduh Sabtu; 26 November 2005

Pembacaan Alkitab: Lukas 6:27-33

Kasihilah musuhmu

27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.

"MELEBIHI MATA ALLAH"

Lukas 6:33
Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.

RENUNGAN:

Pada musim gugur tahun yang lalu, keluargaku membiarkan seekor laba-laba tinggal di ruma h kami. Segera dia membuat jaringnya pada kisi jendela rumah kami; dan mennati serangga-serangga terperangkap di jaringnya untuk dijadikan santapa sorenya. Sejak tinggal di rumah kami, laba-laba itu tidak lagi mencari makanan, tidak membuat jaring, dan hanya tidur nyenyak di pojok jendela itu. Suatu hari aku memperhatikan betapa laba-laba itu kelihatan kurus dan lelah. Lalu, aku tersadar bahwa laba-laba itu belum pernah menangkap serangga-serangga untuk makanannya. Maka, aku meminta suamiku menangkap serangga-serangga di halaman untuk diberikan kepada laba-laba itu.
Dengan meluangkan waktu untuk memperhatikan makhluk yang sebelumnya membuatku jijik itu, aku belajar menghormati dunianya dan peduli akan kesejahteraannya. Aku mulai memikirkan sikapku terhadap beberapa orang. Antara lain, Yesus memerintahkan kita untuk berdoa bagi mereka yang hidup dalam dosa dan musuh-musuh kita. Saat kita melakukannya, kita m emandang mereka melalui mata Allah - sebagai bagian dari ciptaan-Nya yang layak menerima penebusan.

Doa:
Allah Bapa, ampunilah kami karena meremehkan manusia yang Kauciptakan. Tolong kami untuk melihat setiap orang yang kami jumpau dengan mata kasih-Mu. Amiin.

Pokok pikiran:
Mengasihi musuh dimulai dengan berdoa bagi mereka.

Doa syafaat:
Para musuh kita.

* Saat Teduh BPK Gunung Mulia - Jakarta - Indonesia, Sabtu 26 November 2005; - Jennifer Parra (Texas) *
 
posted by imelda at 4:06 AM | 0 comments
Tuesday, November 01, 2005
Renungan:



Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,

"Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak, karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata,

"Saya Ny. Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda." jawab pria itu.

"Apa , maaf?" tanya wanita itu denga gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang.

Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? SayaNy. Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia.

Sampai saati ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperan gkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.
.
 
posted by imelda at 9:20 PM | 0 comments
Beginilah kira-kira bila Tuhan sedang bercakap-cakap dengan kita....




PERJALANAN KE MONAS

===================
TUHAN (T) :Pernah dengar istilah toleransi agama?

MANUSIA (M):Pernah, kenapa memangnya?

(T):Apa definisimu tentang itu?

(M) :Toleransi ya..memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk melakukan peribadatannya masing-masing.

(T) :Betul. Dan menu rutmu apakah sudah berjalan dengan baik ?

(M) :Lumayan deh.

(T) : Belum maksimal sayangnya. Toleransi adalah suatu langkah maju
perkembangan spiritual manusia, revolusioner dan merupakan awal dari
perdamaian yang kamu cari-cari itu. Toleransi adalah tanda-tanda awal kebangkitan spiritual. Namun sayangnya, sebagian pemimpin agama masih melihat agama yang lain sebagai 'saingan', sehingga melarang pengikutnya untuk berkecimpung dengan agama lain, bahkan melarang untuk sekedar mengucapkan selamat hari raya mereka. Apalagi merayakannya bersama-sama.

(M) :Ya bagaimana mungkin merayakannya bersama-sama. Tuhannya kan beda.

(T) :Kata siapa?

(M) :Ya bedalah jelas. Namanya saja beda.

(T) :Kamu tau air kan?

(M) :Ya. Kenapa memangnya ?

(T) :Orang Amerika/Inggris menyebutnya water. Bangsamu menyebutnya air. Bangsa lain, ambil contoh Jerman bilang itu wasser. Wong Jowo bilang banyu. Tapi secara "benda" sama kan? Itu-itu juga.

(M) :Ya itu kan air. Kalau udah ngomongin Tuhan ya nggak bisa dong disamakan begitu saja.

(T) :Oke, kamu pernah punya nama julukan?

(M) :Wah banyak.

(T) :Dan setiap kali kamu dipanggil dengan nama-nama yang berbeda-beda itu, kamu menoleh tidak?

(M) :Ya, aku kira ya. Meskipun kalau nama julukannya kadang cenderung menghina, aku agak sebal juga.

(T) :Tapi kamu mengerti kan kalau julukan itu ditujukan untukmu?

(M) :Iya sih.

(T) :Kalau kamu saja tidak keberatan dipanggil dengan nama macam-macam, mengapa Aku harus keberatan? Apakah Aku akan tersinggung jika saja ada yang memanggilKu dengan nama yang 'menurutmu' buruk? Aku Yang Serba 'Maha' darimu, masih punya rasa tersinggung? Panggilan yang berbeda-beda itu kan menuju ke kamu, yang itu-itu juga kan? Orangnya sama.

(M) :Loh tapi kan secara wujud, Tuhannya memang beda-beda.

(T) :Ah kamu itu...lucu...tahu dari mana sih? Kalau secara wujud memang beda-beda....berarti Tuhanmu tidak sempurna dong, karena punya saingan yang lain...ya nggak? Sementara bukankah kamu percaya Tuhanmu itu satu?

(M) :Iya aku percaya itu. Tetapi konsep Tuhan agama-agama lain kan beda. Ada yang percaya dewa-dewa, bahkan.

(T) :Tapi lihat intinya, sayang. Intinya, mereka mengakui kalau ada 'wujud yang lebih tinggi', yang menguasai segalanya. Dan umumnya di agama-agama yang mengakui adanya dewa-dewa, tetap ada satu dewa yang paling berkuasa dari yang lain. Dan Aku mengerti akan hal ini, dan tidak mempermasalahkannya sama sekali.

(M) :Hmmm. Jadi maksudmu Tuhan yang berbeda-beda nama itu, dan konsep yang berbeda-beda itu sebenarnya mengacu pada Tuhan yang sama?

(T) :Aku tidak akan menjawab itu, tapi aku coba analogikan begini. Kamu ditugaskan untuk pergi ke Monas, Jakarta dari kotamu, Semarang. Kamu belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Kamu mencoba mencari tahu naik apa yang paling aman. Akhirnya kamu memutuskan untuk naik pesawat terbang dulu ke Jakarta. Pada saat naik pesawat terbang, kamu sebelumnya juga sudah memilih maskapai mana yang kamu anggap paling aman dari sekian banyak maskapai yang ada. Setibanya di Jakarta, dari airport kamu memutuskan untuk naik taksi, langsung ke Monas, karena paling praktis, dan tidak perlu bertanya-tanya kepada banyak orang. Nah menurutmu, apakah jalan menuju Monas hanya melalui rute itu?

(M) :Tentu saja tidak.

(T) :Nah sekarang jika kita analogikan agama sebagai rute tadi, dan Monas sebagai Diriku. Menurutmu, rute ke Monas dari Semarang ada berapa banyak?

(M) :Wah ya banyak sekali, bisa ribuan kemungkinan.

(T) :Nah seperti itulah jalan menujuKu. Tapi apa yang terjadi di duniamu sekarang ini adalah masing-masing rute meng-klaim bahwa rutenyalah yang paling be nar, paling aman. Dan semakin banyak orang yang mengikuti salah satu rute misalnya, timbullah kelompok-kelompok. Hingga akhirnya terjadi persaingan antara kelompok-kelompok rute ini untuk berlomba-lomba mendapatkan 'pelanggan' sebanyak-banyaknya. Pelanggan dari rute lain pun kalau perlu mereka bajak dengan cara apapun, ya karena itu tadi, mereka merasa paling aman, sehingga seolah-olah ingin berusaha 'menyelamatkan' pelanggan dari rute yang lain, yang menurut mereka tidak aman. Kalau ada
yang bilang rute ini yang paling aman, kamu percaya?

(M) :Belum tentu.

(T) :Jadi, aktivitas yang sekarang terjadi di dunia ini bukannya "nongkrong di Monas" rame-rame sama Aku, malahan sibuk rebutan pelanggan sepanjang perjalanan. Masing -masing rute berusaha menarik sebanyak-banyaknya pelanggan ke rutenya masing-masing. Kapan sampai ke Monas-nya?

(M) :Wah itu analogi yang menarik.

(T) :Tunggu sampai kau dengar analogi berikutnya. Sekarang kamu bayangkan kamu berada di dalam salah satu pesawat dari sekian puluh rute yang ada, yang telah kamu pilih. Di dalam pesawat itu, ada banyak kursi bukan? Masuk akal tidak kalau kamu bilang kursi yang paling aman yang paling depan, atau yang paling tengah?

(M) :Suatu pernyataan yang tidak mendasar.

(T) :Nah, tetapi itulah yang terjadi di duniamu sekarang. Kita analogikan pesawat itu sebagai salah satu agama. Kamu tahu, bahkan di dalam suatu agama itu terpecah-pecah lagi ke dalam kelompok-kelompok, seperti analogi kursi tadi. Seolah-olah kursi yang satu lebih 'benar' dari yang lain, meskipun kendaraannya sama, dan tujuannya sama.

(M) :Wah ngeri ya.

(T) :Analogiku belum selesai. Kamu tahu, bahkan ketika kamu duduk di salah satu kursi itu, bisa timbul perdebatan lagi.

(M) :Hah? Maksudnya?

(T) :Ya, posisi duduk kamu juga bisa dipertentangkan, tahu tidak.
Larangan-larangan seperti kamu tidak boleh tidur, atau melihat ke luar jendela misalnya, bisa saja timbul. Bahkan pakaian yang kamu pakai, ukuran celana atau baju kerap menjadi masalah, mana yang benar. Masuk akal nggak kalo ada yang bilang, kalo di pesawat, kamu harus duduk di kursi tengah, celananya harus blue jeans, kakinya harus dilipat, dan jangan tidur, supaya kamu aman dan selamat sampai tujuan ?

(M) :Yang benar saja.

(T) :Ya. Kamu bisa bilang begitu. Tapi itulah yang terjadi di duniamu sekarang. Jadi kalo kita kembali ke analogi 'pesawat-kursi-posisi duduk di kursi' tadi, kira-kira begitulah yang terjadi dengan sebagian agama yang besar. Dalam satu agama, mereka terpecah-pecah lagi ke dalam kelompok-kelompok (layaknya pesawat dengan kursi-kursi nya), dan masing-masing kelompok memperdebatkan 'cara' ritual yang benar (layaknya duduk di kursi memperdebatkan posisi duduk yang benar), sehingga terpecah-pecah lagi ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil lagi, begitu seterusnya. Menurutmu perlu nggak sih memperdebatkan hal-hal kecil semacam itu, sementara banyak hal besar yang lain yang lebih penting, perdamaian yang kamu cari-cari contohnya?

(M) :Aku tidak bisa berkata apa-apa. Memang begitu kenyataannya. Dan tentu saja hal-hal kecil seperti itu tidak perlu diperdebatkan.

(T) :Menurutmu, Aku, Yang Serba Maha Ini, apakah masih terbatasi dengan pakaian yang kamu pakai pada saat kamu mencari jalan kepadaKu, masih terbatasi dengan 'hanya satu ritual yang benar', 'hanya satu kelompok yang benar' , dan hal-hal kecil lainnya? Coba kamu pikirkan kembali.

(M) :Betul juga.

(T) :Sekarang kita kembali ke rute kita secara keseluruhan tadi, perjalananmu dari Semarang ke Monas, mencoba menjawab pertanyaanmu tadi.
Seberapapun banyaknya rute yang menuju ke Monas, Monas-nya kan tetap cuma satu, itu-itu juga, apapun orang memanggilnya. Monas, Monumen Nasional, National Monument, dll. Sama seperti analogi air dan nama julukanmu tadi. Nah sekarang menurutmu, rutemukah yang paling benar?

(M) :Tidak juga. Jadi semuanya benar?

(T) :Tidak juga, ada juga rute yang sengaja menyesatkanmu, misalnya dengan membuat Monas-monas yang lain. Rute-rute yang tidak menuju ke Monas, padahal bilangnya ke Monas, tentu menyesatkan.

(M) :Jadi bagaimana tahunya?

(T) :Hatimu pasti bisa membedakannya.
 
posted by imelda at 9:16 PM | 0 comments